Pada kuartal pertama tahun 2022, banyak mata di dunia tertuju pada Ukraina karena per tanggal 24 Februari 2022, Rusia telah menggerakkan sekitar 100.000 pasukan infanteri beserta artileri dan alutsista canggihnya untuk menginvasi Ukraina. Meskipun Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan bahwasannya tindakan militer yang mereka lakukan bukan sebagai bentuk invasi terhadap Ukraina, melainkan merupakan sebuah bentuk Special Military Operation, namun tetap saja apa yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina adalah sebuah bentuk invasi terhadap suatu negara berdaulat (Diva, Putra, & Marchelo, 2022).


Tentu saja, mayoritas negara-negara di dunia mengecam invasi dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina. Resolusi yang berisi tuntutan agar Rusia harus segera menarik seluruh pasukannya dari Ukraina telah disetujui oleh suara mayoritas 141 negara dari 193 negara dalam United Nations General Assembly pada tanggal 2 Maret 2022 yang lalu (UNGA, 2022). Sekretaris Jenderal PBB dalam akun twitternya juga menyatakan kecaman yang senada dengan hasil voting resolusi PBB, “The world wants an end to the tremendous human suffering in Ukraine.” (Masyarakat dunia ingin agar penderitaan yang dialami oleh korban dari serangan di Ukraina tersebut segera berakhir), ujarnya (UNGA, 2022). Amerika Serikat, negara-negara di Uni Eropa serta Israel menjadi negara-negara yang berada pada garis terdepan menyuarakan kecaman terhadap apa yang telah Rusia lakukan. Kecaman ini juga diikuti oleh pemberian sanksi terhadap Rusia secara serentak oleh Barat. Diawali oleh Uni Eropa yang memberlakukan sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia, hingga sanksi pemutusan sistem keuangan Rusia terhadap sistem keuangan dunia, SWIFT (Rebucci, 2022).

Ironisnya, meskipun negara-negara tersebut mengutuk secara keras invasi Rusia terhadap Ukraina dan kemudian diikuti dengan pemberian sanksi ekonomi yang berat terhadap Rusia, negara-negara tersebut seakan-akan lupa atas kekejaman dan kebengisan yang mereka lakukan terhadap negara-negara di belahan bumi lainnya. Ketika mengutuk apa yang terjadi di Ukraina, rasanya Amerika Serikat seakan-akan hilang ingatan atas apa yang telah mereka lakukan di Iraq dan Afghanistan. Begitu pula Israel yang dengan munafiknya pura-pura melupakan kekejaman dan kebengisan yang mereka lakukan pada rakyat Palestina. Seperti yang tercatat dalam satu bulan terakhir, 10 orang warga Palestina ditembak mati tentara Zionis. Bertepatan dengan terjadinya invasi Rusia ke Ukraina, pasukan Zionis dengan membabi-buta merangsek ke Masjidil Aqsa menyerang warga Palestina secara brutal pada saat dihelatnya perayaan Isra’ Mi’raj pada tanggal 28 Februari kemarin. Bahkan berdasarkan data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, sedikitnya 5.739 warga Palestina kehilangan nyawa pada 2008–2021 akibat konflik dengan Israel. Jumlah tersebut mencapai 95% dari total korban jiwa kedua negara. Dari jumlah itu, 21,8% merupakan anak-anak usia di bawah 18 tahun. Rinciannya, 1.011 laki-laki dan 244 perempuan (Santosa, 2022). Israel, dengan lantangnya mereka menyuarakan agar perang di Ukraina segera dihentikan, namun mereka sendiri menabuh genderang perang di Palestina.Sebuah kemunafikan


Standar ganda Barat dalam memandang konflik yang terjadi di dunia akhir-akhir ini seolah tidak ada habisnya. Bagaimana tidak? Barat memiliki akses penuh terhadap media mainstream yang hari ini menghiasi layar televisi serta gawai kita. Melalui media-media tersebut dunia dipaksa untuk lebih memperhatikan konflik yang terjadi di Ukraina ketimbang di belahan dunia lainnya sementara itu mengesampingkan konflik yang terjadi di Timur Tengah dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Dengan lihai jurnalis dan awak media Barat memainkan kontrol penuh atas narasi-narasi serta opini yang dapat terbentuk di masyarakat. Seperti contohnya statement yang reporter senior CBS News, Kyiv Charlie D’Agata katakan dalam laporannya mengenai konflik Rusia-Ukraina. Ia mengatakan,


“This isn’t a place, with all due respect, like Iraq or Afghanistan that has seen conflict raging for decades. This is a relatively civilized, relatively European. City where you wouldn’t expect that, or hope that it’s going to happen.”


“Ini bukanlah sebuah tempat — yang dengan segala hormat, seperti Irak dan Afghanistan yang telah menyaksikan konflik berkecamuk selama beberapa dekade. Ukraina merupakan masyarakat Eropa yang secara relatif beradab. Kamu tidak akan mengira dan berharap bahwasannya konflik akan terjadi di sana (Al-Jazeera, 2022).”


Lebih lanjut, reporter BBC David Sakvarelidze juga memberikan statement yang senada. Ia mengatakan,


“It’s very emotional for me because I see European people with blonde hair and blue eyes being killed every day with Putin’s missiles and his helicopters and his rockets.”


“Ini merupakan sebuah kejadian yang sangat emosional bagi saya karena saya melihat orang-orang Eropa dengan rambut pirang serta mata biru mereka setiap harinya dibunuh dengan misil-misil, helikopter dan roket yang dimiliki Putin (Al-Jazeera, 2022).”


Seolah-olah berada dalam satu komando, dengan kompak media Barat menggambarkan orang-orang berkulit putih dan bermata biru yang berjuang mempertahankan diri dengan menggunakan bom molotov dengan segenap narasi heroik., sementara itu apabila orang berkulit cokelat di Yaman atau di Palestina berusaha mempertahankan diri dengan melempari batu ke arah musuh-musuhnya, Barat menggunakan narasi serta label teroris untuk menggambarkan aksi-aksi mereka.


Bukan hanya dalam sektor media, Barat juga kompak menghakimi Rusia dalam berbagai bidang. Dunia olahraga juga terseret, Final Liga Champions yang seharusnya digelar di Saint Petersburg dipindahkan. Serta seluruh tim Rusia dalam ajang internasional di-banned dan didiskualifikasi. Tim nasional Rusia yang masih berpeluang lolos dalam perhelatan inti Piala Dunia 2022 harus dicoret dari daftar peserta babak play off. Federasi Bulu Tangkis Dunia juga membatalkan seluruh turnamen yang akan dihelat di Rusia. Sama halnya dengan balapan jet darat dan Moto GP Rusia yang rencananya akan digelar pada September 2022 nanti (Santosa, 2022). Juga merupakan sebuah ironi ketika FIFA melarang pemain bola yang mengenakan kaus dalam yang memuat pesan-pesan pembebasan dan perjuangan Palestina, sementara itu hari ini dengan ramai FIFA menyanjung pemain-pemain yang ramai mengenakan kaus dalam yang berisi pesan duka dan pesan perdamaian atas peperangan yang terjadi di Ukraina (VOI, 2022).


Standar ganda Barat ini juga seolah tak ada habisnya, ketika Ukraina diserang oleh Rusia sekitar 1,5 juta rakyat Ukraina secara berbondong-bondong meninggalkan tanah airnya (News18, 2022). Seketika hampir seluruh negara-negara Eropa membukakan palang pintu perbatasan, menerima suaka pengungsi dari Ukraina. Kondisi ini berbeda sepenuhnya dengan kondisi yang terjadi pada tahun 2015 yang lalu ketika secara berbondong-bondong pengungsi dari Timur Tengah mencari suaka ke negara-negara Eropa. Eropa pada saat itu seperti bersikap enggan dalam menerima suaka pengungsi Timur Tengah. Mereka menganggap bahwa peningkatan jumlah pengungsi yang masuk ke wilayah Eropa telah mengganggu kenyamanan dan keamanan negara-negara Eropa, terutama Hungaria yang akhirnya membangun pagar kawat di perbatasannya dengan Serbia pada tahun 2015, tindakan ini kemudian diikuti oleh Kroasia, yang kemudian menuntut Uni Eropa untuk turut aktif dalam menyelesaikan krisis imigran yang terjadi di Eropa. Kini, Hungaria dan Kroasia beserta negara-negara Eropa lainnya dengan sangat terbuka menerima suaka dari pengungsi Ukraina (The Guardian 2015, Baptiste 2022). Begitupula Denmark yang mencabut peraturan “Jewellry Law” terhadap para pengungsi Ukraina. “Jewellry Law” merupakan undang-undang kontroversial yang mengharuskan para pengungsi untuk menyerahkan aset dan harta mereka yang melebihi batas tertentu secara paksa kepada Denmark selaku negara pemberi suaka. Setelah sebelumnya pada tahun 2016, para pengungsi dari Syria yang mencari suaka ke Denmark menderita karena kebijakan ini (News18, 2022).

Standar ganda Barat dalam berbagai lini dan aspek ini rupanya bukanlah merupakan barang baru, ia tumbuh bersama aspek-aspek historis dan world-view Barat yang berkembang pada zaman Kolonialisme. Meskipun hari ini mereka menggaungkan kesamaan derajat di antara manusia, ternyata di antara mereka masih menganggap bahwasannya Barat lebih superior dibandingkan Timur. Ini juga senada dengan apa yang disampaikan oleh Edward Said dalam bukunya yang berjudul Orientalisme. Said menjelaskan bahwasannya narasi-narasi Barat kerap kali menggambarkan daerah Timur dengan narasi-narasi yang senonoh dan tidak pantas. Timur kerap kali digambarkan sebagai sebuah wilayah yang dipenuhi oleh marabahaya, misteri, serta hal-hal yang barbar. Sementara Barat digambarkan sebagai pusat peradaban, modernitas dan kemajuan teknologi, segala hal-hal yang baik dan modern ada di Barat (Sunarti, 2017). Namun ironisnya, seiring dengan gencarnya narasi-narasi kesetaraan dan persamaan hak asasi manusia yang digaungkan oleh Barat, narasi-narasi inferior terhadap Timur hingga hari ini masih terus memenuhi relung-relung pemikiran Barat sehingga menciptakan standar ganda Barat dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang terjadi di dunia.


Author: Anza Zahya Qeysha


Referensi

Al-Jazeera. (2022, Februari 27). ‘Double standards’: Western coverage of Ukraine war criticised. Diambil kembali dari Al-Jazeera: https://www.aljazeera.com/news/2022/2/27/western-media-coverage-ukraine-russia-invasion-criticism


Baptiste, N. (2022, Maret 3). The West’s Racist Double Standard For Refugees. Diambil kembali dari Huff Post: https://www.huffpost.com/entry/west-ukraine-double-standard-racism_n_621fd79be4b0ce76f634dbc1


Diva, A. R., Putra, V. A., & Marchelo, F. (2022, Maret 3). The Rise of Conflict Between Russia and Ukraine. Diambil kembali dari Instagram: https://www.instagram.com/p/CaolaJBFTUC/?utm_medium=copy_link


News18. (2022, Maret 6). Denmark Won’t Take Away Ukrainians’ Assets Under ‘Jewellery Law’. All About the Rule & the Spcl Relief. Diambil kembali dari News18: https://www.news18.com/amp/news/world/ukrainian-refugees-likely-to-be-saved-from-denmarks-jewellery-law-assets-wont-be-confiscated-as-neighbours-first-4840958.html


Rebucci, A. (2022, Maret 7). The SWIFT sanctions against Russia: How they work, and what’s the impact going to be. Diambil kembali dari MarketWatch: https://www.marketwatch.com/story/the-swift-sanctions-against-russia-how-they-work-and-whats-the-impact-going-to-be-11646663240


Santosa, J. B. (2022, Maret 8). Standar Ganda Barat. Diambil kembali dari Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2398-standar-ganda-barat


Sunarti, S. (2017). Membaca Kembali Orientalisme Edward Said. Jurnal Badan Bahasa, 1–7.


The Guardian. (2015, September 15). Refugee crisis: Hungary rejects all asylum requests made at border — as it happened. Diambil kembali dari The Guardian: https://www.theguardian.com/world/live/2015/sep/15/refugee-crisis-hungary-launches-border-crackdown-live-updates


UNGA. (2022). General Assembly resolution demands end to Russian offensive in Ukraine. New York: United Nations.


VOI. (2022, Maret 4). FIFA And UEFA Judged To Apply Double Standards, Egypt Legend Urges Israel To Be Punished Like Russia. Diambil kembali dari VOI: https://voi.id/en/olahraga/141331/fifa-dan-uefa-dinilai-terapkan-standar-ganda-legenda-mesir-desak-israel-juga-dihukum-seperti-rusia